Wednesday, September 18, 2002

The City of Light

Siapa tak kenai Paris? Keindahan kota ini seakan tak ada habisnya. Kesan romantis di. awal musim semi yang kental pun terasa hingga di ujung kalbu. Berikut ini oleh-oleh Cosmo dari Paris, the city of light!

Tiba pada hari Minggu, terlihat hiruk pikuk kota agak teredam. Asal tahu saja, hampir tak ada satu toko pun yang buka! Buat orang Prancis, hari Minggu berarti istirahat total. Berhenti dari kesibukan kerja dan menikmati indahnya hidup. Comme Za vie est belle!





Tempat pertama yang wajib dikunjungi apa lagi jika bukan Menara Eiffel.



Kunjungan kali ini pertama kami ke Champs-Elysees, jalan raya paling kondang di Paris. Siapa tak kenal monumen berbentuk lengkungan busur Arc de Triomph? Nongkrong di tepi Champs- Elysees sambil menikmati orang lalu lalang jadi kenikmatan tersendiri!

Arc de Triomph di waktu malam


Notre Dame
adalah sasaran kami berikutnya. Tak hanya mengagumi keindahan interior dengan pilar-pilar besar, ada misi lain (waduh..........misi......hehehe) : menginjak zero point! Konon, jika berada di titik nol, Anda bakal punya kesempatan untuk kembali ke kota ini! Dulu pernah menginjak ini ..(heheh beberapa kali sich, dan aku kembali lagi dan lagi .... ).


Paris tak hanya terkenal dengan ba­ngunan kunonya. Ada juga bangunan modern yang layak dikunjungi, seperti Centre de Georges Pompidou, musium seni kontemporer di Beaubourg, kawasan yang paling grunge yang penuh anak muda. Di kawasan ini banyak jalan kecil penuh liku dengan butik-butik kecil yang lucu.



Tempat berikut yang layak dikun­jungi adalah Hotel de Ville. Saat itu, mata­hari sudah hampir tenggelam, menyisa­kan semburat merah. Kami memutuskan menunggu malam, saat gedung ini mulai bermandikan cahaya.


Puas mengagumi Hotel de Ville, kami berjalan kaki menyusuri Quartier Latin, yang dipenuhi restoran dari berbagai negara: Prancis, Yunani, Turki, Jepang dan restoran seafood. Tak terasa, tengah malam pun terlewati. Kami menyusuri Boulevard St. Michel, Place de la Sorbonne, dan Jardin du Luxembourg. Tiba di Rue St. Jacques, kami berpisah (aku dan teguh tidak dihotel yang sama dengan teman – teman yang lain).



Keesokan harinya, kami menyusuri sepanjang Sungai Seine menuju museum Louvre, Le Petit Palais dan Jardin de Tuileries yang indah untuk menghabiskan waktu. Saat mata menerawang, dari taman ini terlihat Place de la Concorde dan Arc de Triomph di ujung pandangan.


Hari berikutnya, kami mencoba me­ngunjungi sisi utara kota Paris, Basilique du Sacre-Coeur yang terletak di atas bukit di kawasan Montmartre. "Indah se­kali," saat kita melihat peman­dangan Kota Paris dari atas bukit. Mont­martre juga terkenal dengan Place du Tertre, tempat seniman berkarya dan memajang luldsannya. Gayanya bermacam-­macam, mulai dari impresionis hingga karikatural. Hanya saja, lukisan yang ditawarkan tentu saja tak murah hik hik hik .

Di hari terakhir teman yang bernama hidayat di Paris (karena dia akan melanjutkan perjalanan ke Rusia), kami berniat menengok Monalisa, lukisan Leonardo da Vinci yang tergantung di Louvre. Pagi-pagi, setelah sarapan crois­sant, kami bergegas ke museum. Rugi kalau tak datang pagi-pagi. Maklum, mu­seum ini tak akan habis dikunjungi dalam sehari! Tak ayal, seharian penuh kami mengagumi jutaan koleksi seni: mulai dari Venus de Milo hingga Monalisa.


L' Art de Vivre a Paris

Orang Prancis memang terkenal dengan 'seni hidup' -nya. Museum, pertunjukan seni, dan musik memberi jiwa pada kehidupan mereka. Ke museum lagi? Eit, jangan bosan. Di Paris ada ratusan mu­seum yang menarik untuk dikunjungi. Salah satunya, Musee de la vie romantique (Museum Romantisme). Mendengar na­manya saja, pikiran langsung melayang ke hal-hal yang romantis. Tak heran, museum ini kelihatan asri dengan bunga pink dan putih di halaman depannya. Yang unik, museum ini dihiasi taman tempat minum teh. Seorang pelayan sudab menunggu untuk melayani Anda dengan secangkir teh dan kue home-made lezat!

Di daerah ini ada juga museum lain yang tak kalah menarik: Musee de l'ero­tisme. Tak perlu diterjemahkan, Anda pasti tahu artinya. Terletak tak jauh dari Moulin Rouge, museum ini tak 'seseram' yang dibayangkan. Kata 'erotisme' yang erat melekat tak membuat museum ini berkesan vulgar. Di sini tersimpan koleksi patung artistik Mr. Happy dari berbagai negara, sejarah kehidupan erotis, hingga instalasi benda seni erotis tapi tak jorok. Misalnya instalasi 'Unexpected visitor', berupa patung kaki wanita berstoking yang menyelinap di jendela. Seorang de­sainer Inggris, Julian Murphy, memamer­kan lukisannya di lantai puncak museum ini. Di mata seniman, erotisme bisa jadi salah satu obyek seni yang menarik!

Jangan Takut Jadi Fashion Victime!

Paris is the fashion city. Seluruh dunia pasti mengakuinya. Bahkan di jalan-jalan, tak ada yang tak berpenampilan fashion­able. Akupun memutuskan mencoba jadi pengamat fashion amatir di Paris (waktu di bilang aku pengamat amatir langsung saja tagor terbatuk – batuk .....sebel juga....hehehe).

Di setiap sudut kota Paris, bertebaran toko fashion dengan etalase yang ditata menarik. Sepanjang Rue Rivoli, Rue du Temple hingga Rue Etienne Marcel termasuk daerah yang padat de­ngan toko 'fashion victime'. Bagi wanita Paris, tak perlu takut jadi fashion victime!

Belanja, Belanja, Belanja!

Tiada hari tanpa belanja. Habis, semua­nya terlihat indah di mata! Di sepanjang Champs- Elysees, ada banyak butik yang bisa dikunjungi. Mulai dari Louis Vuitton yang selalu ramai dikerumuni turis Asia, Bally, Charles Jourdan, Gap, Naf Naf, hingga Petit Bateau yang sedang dige­mari di Amerika. Tak hanya itu, toko par­fum terbesar Sephora juga ada di sini.

Jika ingin belanja tapi tak terlalu me­nguras kantong, Forum Les Halles bisa jadi tujuan. Di sini ada berbagai macam toko, mulai dari Etam, Pimkie, H&M, LA City hingga butik kecil dengan fashion yang up-to-date. Di daerah Beaubourg tak jauh dari mal ini, kamu bisa mene­mukan banyak butik trendy. Di sini, aku menemukan sunglasses ber­lens abu muda, aku beli........bagus....

Selain mode, Paris juga tersohor karena parfumnya. Tapi jika mau tidak ada salahnya jika mampir ke Paris Look, sebuah toko dutyfree di Boulevard Haussman. Yang unik, pramuniaga toko ini terdiri dari berbagai macam bangsa: Jepang, Cina, Spanyol, dan Indonesia. Maksudnya, agar omongan bisa nyambung dengan pembeli turis manca yang datang! Dengan cekatan, Rizal, yang bekerja di toko ini langsung menyodori aku puluhan koleksi parfum untuk dicoba. Setelah lama kebingungan, akhirnya saya me­milih Angel, Angel Innocent, dan Angel Celebration dari Thieny Mugler, Pleasures dari Estee Lauder, Bazaar dari Christian Lacroix, dan Rocabar dari Hermes.